Rabu, 27 Desember 2017

LUKISAN LUH TARI

Selalu di setiap hari minggu, Luh Tari mengayuh sepedanya pelan. Sepeda tua yang selalu menemani dirinya tatkala akan berpergian. Memang, gadis itu sangat mandiri. Beda dengan teman-teman seusianya, yang hanya diam di rumah membantu ibunya mejejaitan. Luh Tari tidak seperti itu. Ia tidak suka hanya duduk diam, merangkai janur kuning hingga menjadi sesajen. Membosankan katanya.
            Hidup di desa membuat dirinya masih bisa menghirup udara segar. Melihat embun turun perlahan dikala sang fajar menjelang. Diantara gelap remang yang berangsur menghilang. Hanya ada sesekali orang desa yang menuju sawahnya. Menggarap sepetak sawah. Orang-orang memang mengenalinya, sesekali mereka menyapa. Ia selalu membalasnya dengan senyuman. Senyum manis bak madu. Bibirnya merah merona seperti selalu menggunakan gincu. Sebuah cerminan seorang gadis yang sempurna.
            Tak terasa hari sudah terang. Keriuhan pasar memecah ketenangan pagi hari. Pedagang menjajakan dagangannya dipinggir jalan. Sesekali lewat ibu-ibu menjunjung barang diatas kepalanya. Luh Tari menekan bel sambil menyapa orang-orang. Ia terus mengayuh pelan sepedanya. Pelan tapi pasti, tempat yang dia tuju tak jauh dari situ.
Decitan suara rem sepeda terdengar bersamaan dengan berhentinya kayuhan sepasang kaki jenjang. Iya sudah sampai di tujuannya. Disenderkannya sepeda tua itu dipagar tanaman sebelah. Luh Tari lalu memasuki toko yang sudah tak asing lagi olehnya. Sang penjaga tokopun sudah sangat akrab dengannya.
            “Luh Tari, pagi benar datang kemari.”
            “Ah Bapak bisa saja. Saya kan memang selalu datang jam segini.”
            “Itu pesananmu sudah datang. Oh iya, itu banyak warna yang baru datang. Ayo silakan dipilih.”
            Langkah kakinya mengantarkannya menuju rak-rak tumpukan cat dan alat lukis. Memang, Luh Tari sangat senang melukis. Menggoreskan kuas, dengan warna-warna yang sangat serasi. Baginya, gambaran abstrakpun sangat indah. Lukisan abstrak mencoba menjelaskan sesuatu dibalik goresan-goresan warna yang serasi. Namun, Luh Tari lebih senang melukis lukisan figuratif seperti melukis ekspresi si Poleng, anjing kesayangannya.
            Langkahnya terhenti di rak cat. Ia melihat-lihat tumpukan kaleng dengan debu tipis itu. Sesekali ia mengangkatnya untuk melihat warna cat itu. Ia memilih beberapa warna. Coklat, kuning merah, hitam dan beberapa warna yg ia rasa cukup.
            “Saya ambil ini lagi, bapak.”
            “Wah, mau buat lukisan apa, luh? Banyak sekali beli warnanya”
            “Tidak juga, bapak. Lagian Bapak Nyoman tadi nawarin.”
            Luh Tari membayar belanjaanya. Kemudian pamit dengan Bapak Nyoman. Dia mengambil kembali sepedanya yang ia taruh di pagar dari tanaman sebelah toko itu. Dijepitnya sebuah kanvas yang sedang dan beberapa kuas. Cat warnanya di taruh di keranjang depan. Ia memastikan sekali lagi kalo barangnya sudah terikat kuat. Dikayuhnya lagi sepeda tuanya itu. Dikayuh pelan menuju desa dipinggiran kota.
            Matahari sudah mulai meninggi. Hangatnya matahari kian lama terasa panas. Peluh Luh Tari membasahi dahinya, sedikit menetes ke pelipisnya. Sudah tiga per empat jalan pikirnya. Jarak dari desanya ke kota memang lumayan jauh. Untuk ukuran seorang gadis sepertinya.
            Luh Tari sudah di rurung, begitu orang desa menyebut jalan kecil. Ia melihat sesuatu yang tidak biasa. Sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Mungkin orang puri, pikirnya. Di desanya, pemilik mobil hanyalah Puri. Penduduk desa yang sebagian besar petani pasti tidak bisa membeli mobil. Punya sepeda saja sudah untung. Jika memang tidak kaya sekali, tidak mungkin mampu membeli sebuah mobil di kala itu. Ia sedikit panik. Membuat masalah apalagi Bapa dengan orang puri. Bapa tidak bosa-bosan membuat masalah. Memang seringkali Bapanya membuat masalah, entah itu masalah judi atau masalah-masalah kecil lainnya.
Kayuhannya semakin dipercepat. Ia menaruh sepedanya dekat angkul-angkul. Dengan sedikit berlari ia memasuki rumahnya. Dari dekat bale dangin ia melihat Bapa sudah bersama orang-orang puri, dan salah satunya adalah Cokorda Agung. Memang ia kenal betul sosok itu. Siapa yang tidak kenal dia? Dia orang yang berkuasa di desa itu. Dia memiliki mobil, puri yang megah dan benyak sawah. Selirnya pun banyak. Memang seperti itulah kehidupan di puri. Tidak jadi rahasia lagi.
Namun kali ini terlihat berbeda. Mereka malah tertawa bersama. Menertawakan sesuatu yang ia tidak mengerti. Dari tempat persembunyiannya, ia merasa kalau orang-orang itu akan pulang. Dia keluar dari tempat persembunyiannya di dekat bale dangin. Berharap mereka tidak melihatnya. Namun Poleng, anjingnya, melihat Luh Tari. Poleng menghampiri majikannya. Namun bapa malah melihat mereka berdua, kemudian memanggil.
“Luh, mau kemana? Sini dulu, ini ada Cokorda Agung. Sini kamu hormat dulu kesini.”
Dengan berat hari, Luh Tari berbalik badan menuju mereka. Ia hanya menunduk. Namun Bapa tak henti-hentinya mengatakan sesuatu yang ia tak mengerti. Cokorda Agung sesekali tertawa.
“Oh ini anaknya? Wah benar kabar yang saya dengar. Anak bapa cantik sekali.”
Mendengar hal tersebut, dahi Luh Tari sedikit mengertnyit. Cantik? Apa maksudnya? Kenapa dia menyanjungku seperti demikian?
“Bapa, saya akan balik ke puri sekarang. Jangan lupakan kesepakatan kita yang tadi ya, pa”
“Tenang saja, ratu tidak usah khawatir.”
Mereka kembali tertawa bersama. Cokorda mulai melangkah, tak lupa memalingkan wajahnya ke Luh Tari. Ia menaikkan alisnya. Janggal. Senyum liciknya seolah-olah menutupi sebuah rencana besar. Entah apa yang akan terjadi. Siang itu Luh Tari hanya menaruh barang-barangnya di depan kamarnya di Bale daja, dimana biasanya orang bali menaruh pusaka dan anak gadisnya di bale ini.
...........
Beberapa hari berlalu, Luh Tari sedang duduk di depan kanvas. Kanvas tersebut masih kosong. Hanya beberapa goresan kecil pensil. Ia mulai menggoreskan kuasnya. Menyapu bagian yang ingin ia warnai. Dengan rapi ia mulai menggoreskan kuasnya membentuk sebuah pipi. Entah kenapa imajinasinya beberapa hari ini mengantarkan ia melukis seorang laki-laki. Entah apa yamg mempengaruhinya. Bayangan laki-laki tersebut sangat jelas dibenaknya. Laki-laki tampan nan gagah.
Wajah pemuda itu mulai terbentuk sempurna, wajah itu sangat tampan. Mungkin bila bersanding dengannya, wajah itu sangat cocok. Pemuda tampan dengan gadis yg cantik. Sempurna. Tapi yang ia pikir, darimana wajah itu? Dia rasa tak ada wajah setampan itu di desa ini. Ah sudahlah, gelap sudah mulai jatuh. Malam sudah mulai menjelang.
Seperti malam-malam lainnya, ia selalu menghabiskan malamnya dengan makan bersama keluarga kecilnya. Ibunya menyiapkan makanan, tak lupa Luh Tari membantunya. Sambil sesekali tertawa kecil, ia menyiapkan makanan tersebut. Di sela-sela bercandaan mereka, ibunya menanyakan sesuatu yg tidak terduga.
“Luh, kamu sampai mau ngelukis aja? Teman-teman sebaya kamu udah pada menikah, kamu saja belum. Anak Bapa Suja, Bapa Budi, Me Sri semua sudah menikah. Mereka-mereka kan seumuran dengan kamu? Bahkan anak Bapa Wayan saja lebih kecil dari kamu saja sudah menikah. Kamu kapan? Sampai kapan mau ngelukis terus. Lebih mending kamu bantu ibu mejejejaitan. Biar bisa jadi bekel nanti kalo kamu nikah. Ibu kan jago buat banten”
“Me, aku lagi tidak pengen ngomongin hal gitu, me. Lagi pula aku belum siap ninggalin Bapa, Meme sama si poleng.”
“Kamu ini kalo ditanya serius itu dengerin.”
Wajah ibunya mendadak serius. Tawa yang tadinya ada kini menghilang bak tertelan malam. Suasana di dapur tua itu kini mendadak sepi. Hanya suara jangkrik yang memenuhi dapur itu. Ingin rasanya Luh Tari cepat-cepat menyelesaikan masakanya, lalu makan dan tidur. Ia tidak ingin lagi berlama-lama. Berharap malam ini cepat berakhir.
Ia kurang nafsu makan. Ketika duduk melingkar bersama keluarga kecilnya, ia hanya mengambil sedikit nasi dan beberapa sendok sayur yang ia buat tadi. Ayahnya menangkap kejanggalan itu. Tadi di dapur masih terdengar tawa-tawa kecilnya. Entah kenapa tiba-tiba ia bersikap dingin seperti ini.
“Kamu kenapa, luh? Daritadi Bapa liat kamu murung sekali.”
“Tidak, pa. Saya baik-baik saja.”
“Ah masak kayak gini biasa saja?”
“Ia, pa.”
Tak ada tanggapan yang berarti dari Luh Tari. Ibunya yang mengetahui hal itu menyuruh Bapa supaya diam. Jangan dulu mengganggu anaknya yang sedang murung. Biarkan ia tidur nyenyak malam ini. Mungkin besok pagi ia akan kembali ceria lagi dan melupakan segala yang membuat dirinya seperti ini.
Dikala pagi menjelang, Luh Tari dibangunkan oleh berkas cahaya yang menembus ukiran-ukiran jendela dengan gebyog sederhana dengan ukiran khas Bali. Lalu ia menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Menyentuh dinginnya semen plester di pagi hari. Kemudian ia berdiri untuk membuka jendela dan melihat keadaan natah rumahnya. Terlihat induk ayam dengan anak-anaknya mengais-ngais tanah untuk mencari makanan, poleng yang selalu setia menjaga dapur dan Bapa yang tengah duduk di sekitar Bale Dauh yang sedang megecel.
Saat siang semakin terik, saat semua pekerjaan rumah Luh Tari selesai dikerjakan, ia mulai kembali mengambil kanvasnya. Mengambil peralatan lukisnya, mengambil catnya dan segera duduk di Bale Dangin. Ia membuka penutup kanvasnya. Seolah terkesima dengan wajah yang ada di kanvas, ia diam menatap kanvas sejenak. Ia menatap dalam lukisan tersebut, ia tak sadar jika tatapan tegas itu menatap langsung ke jiwanya. Seolah menghipnotis dirinya untuk terus menatap lukisan itu. Setelah beberapa saat ia tersadar dan tersenyum. Ia kembali menggapai kuas dan catnya.
Dengan cekatan ia menuangkan catnya dan kembali menggoreskan warna-warna indah di atas kanvas. Saking asyiknya ia melukis, tiba-tiba saja bapa sudah dibelakang Luh Tari menyaksikan gerakan lembut tangan anaknya tatkala menggoreskan warna diatas kanvas.
“Siapa yang kamu gambar, Luh?”
“Saya tidak tahu, pa.”
“Lho, bagaimana kamu ini? Kamu yg ngelukis masak tidak tau itu siapa?”
“Aku serius, pa. Aku ngelukis ini cuma pakai bayangan saja.”
“Ah, kamu ada-ada saja. Bagaimana mungkin ngelukis cuma pakai bayangan saja. Lagi pula kamu sudah tidak melukis si Poleng lagi?”
Mereka berdua tertawa-tertawa kecil sejenak. Dengan tidak melepas tatapannya dari kanvas yg ia lukis, ia kemudian tersenyum sejenak dan kembali mengambil cat yang mulai kering di kuasnya.
“Jangan-jangan ini pacar kamu ya?”
“Tidak, pa. Saya mana ada yang mendekati? Saya cuma duduk di rumah saja. Tidak kemana-mana, tidak bermain-main di sekitar tukad, pa.”
“Bapa serius, Luh. Kamu ini sudah besar, kamu ini harus segera menikah.”
“Pa, saya masih belum siap meninggalkan meme dan bapa. Apalagi aku hanya perempuan satu-satunya anak bapa.”
“Kalau kamu tidak segera menikah, kamu bapa akan jodohkan! (dengan nada yang meninggi) Sudah berapa orang yang mau minta kamu ke bapa? Terakhir, Cokorda meminta langsung ke rumah ini. Hanya demi kamu. Kalau dia mau kamu bisa saja sekarang langsung diambil menuju puri. Bapak yang tidak ngasi.”
“Aku tidak mau pa. Lihat dia, istrinya banyak. Bapa tega ngasi aku buat dimadu dia?”
Luh Tari berlinang air mata langsung mencabut kanvas dan lari menuju kamarnya membawa kanvas tersebut. Ia menangis di dalam kamar. Selama ini hidupnya baik-baik saja. Namun kenapa datang topik dia harus menikah? Apakah aku harus menikah? Aku belum siap! Aku masih senang di rumah ini. Kenapa gadis Bali harus menikah di usia yang semuda ini?
Pertanyaan-pertanyaan terus memenuhi otaknya. Tanpa sadar ia masih memeluk kanvas itu, kanvas yang cukup besar itu dirangkul kedua tangan putihnya. Oh iya, catnya belum kering! Benar saja, bajunya terkena cat yang belum. Untung saja itu cat yng mudah dibersihkan. Dan lukisannya tak rusak.
Luh Tari kemudian duduk diatas ranjangnya, masih memandang kanvas tersebut. Ditengah tangisnya ia masih bisa tersenyum memandang lukisan tersebut. Lukisan tersebut mampu meredakan tangisnya. Seolah wajah di lukisan itu keluar dan menghiburnya. Entah kenapa, ada yang beda dengan lukisan tersebut. Ia kembali memeluknya dan merebahkan diri. Lama ia memandanginya sampai ia tertidur di atas ranjangnya.
....
Luh Tari terbangun karena gedoran pintu. Pintu kamarnya digedor oleh bapa. Menyuruhnya segera keluar untuk makan.
“Luh, sini makan dulu. Jangan mengurung diri seperti itu”
Luh Tari tak menjawab, ia berusaha mengurung dirinya disana. Toh lagipula aku tak lapar, pikirnya. Lama ia ngurung diri dikamar, tak melakukan apa-apa, tanpa suara, hanya rebahan di atas kasur. Pikirannya menerawang jauh. Entah apa yang ia pikirkan. Hanya tuhan dan dirinya yang tau. Tak lama kemudian ia tertidur.
Luh Tari tiba-tiba merasakan sesuatu di sebelahnya. Ia juga mendengar suara nafas pelan. Entah siapa itu, itu membuatnya merasa takut. Bagaimana tidak? Ini hampir tengah malam, dan dia sedang mengunci pintu. Bulu kuduknya terasa merinding. Namun dengan seluruh keberanian yang ia miliki, ia mencoba membuka mata pelan. Ia melihat langit-langit gedek kamarnya. Kemudian secara perlahan ia menoleh ke kanan. Betapa terkejutnya ia melihat seorang laki-laki tengah duduk diranjangnya.
“Si, Si, Siapa kau?’
Tanpa mengatakan sepatah kata, laki-laki itu menoleh Luh Tari dan tersenyum. Luh Tari merasa familiar dengan sosok itu. Ia merasakan aura yang sangat ia kenal. Benar saja, itu adalah wajah dalam lukisan itu.
“Kau, kenapa kau bisa disi...”
“Ya, aku adalah siapa yang kau gambar itu.”
“Lalu kenapa kau bisa disini? Untuk apa ?”
“Kenapa tidak? Aku adalah dirimu, dimana kau berada, aku akan selalu bersamamu.”
Luh Tari masih belum mengerti mengapa laki-laki itu bisa disini. Ia masih belum berani bergerak. Dengan pelan ia mencubit lengannya. Ia masih merasakannya. Berarti ia tak sedang bermimpi. Tapi bagaimana caranya?
...
            Pagi kembali menjelang. Dalam remang-remang pagi, suara ayam jantan terdengar tersayup. Luh Tari sudah tak ada di kamarnya. Ia sudah berada di depan tungku api bersama ibunya. Memasak nasi, sayur, lauk dan lainnya. Ia sudah kembali ceria seperti dahulu. Ibunya pun senang melihat keceriaan Luh Tari kembali. Mereka berkumpul untuk makan bersama-sama lagi. Menertawakan hal-hal kecil, serasa tak ada ganjalan dalam hatinya.
            Setelah semua pekerjaan pagi hari itu selesai, Luh Tari duduk di bale dangin di depan lukisannya bersama poleng. Kadang ia berbicara sendirinya. Kadang tertawa. Kadang senyum. Luh Tari melakukan itu sepanjang hari. Dari raut wajahnya, ia tampaknya sangat bahagia. Entah kenapa, Ibunya lama-kelamaan merasa heran. Sedikit khawatir, namun ia tak terlalu memikirkan anaknya. Toh juga setiap hari dia memang ceria.
....
            Namun Ibu Luh Tari merasa janggal. Sudah 3 hari berlalu, namun anaknya tetap saja begitu. Tertawa sendiri, duduk sendiri. Aneh memang. Entahlah mungkin dia sedang menaksir seseorang. Namun kecemasan seorang ibu tetap saja tidakbisa dibendung hanya dengan anggapan yg sekedar menghibur.
            Hari berlalu, Bapa juga sudah datang dari sawah. Memang, yang ke sawah hanya bapa karena ibunya tidak kuat berda di sawah bahkan suatu hari ibu Luh Tari pingsan di sawah. Ditaruhnya peralatan sawah di dekat dapur. Kemudian semua sudah berkumpul untuk makan. Dengan lahap keluarga kecil ini makan. Diselingi canda tawa di sela-sela makan. Namun Luh Tari hanya duduk senyum-senyum saja. Entah dia memikirkan apa. Bapa yang melihat itu segera bertanya.
            “Luh, kenapa kamu senyum-senyum sendiri gitu, tidak makan?”
            “Tidak kok, pa. Ini saya juga sedang makan. Tidak kok pa, saya gak kenapa.”
            “Ah. Tumben kamu senyum-senyum begitu. Apa kamu sudah punya pacar?”
            “Tidak kok, pa. Seandainya saya punya, juga saya bakal diperistri Cokorda.”
            “Kalo kamu sudah menikah, kamu tidak bakal diperistri lagi.”
            “Serius, Pa?”
            Bapa hanya melanjutkan makannya. Suasana hening lagi. Seperti malam-malam lain, seringkali ditutup dengan keheningan. Walaupun di awal mereka selalu bercanda, tetap saja, pasti semuanya hening di akhir.
            Luh Tari sudah di kamarnya, bersama lukisan kesayangannya. Mereka selalu berdua, Luh Tari selalu berharap supaya laki-laki dalam lukisan keluar dan mengajaknya mengobrol. Malam ini hatinya sedang gundah memikirkan calon suaminya. Mana mungkin Luh Tari mengajukan laki-laki dalam lukisan sebagai calon suaminya? Pasti ia dianggap gila. Pasti dia akan dikucilkan karena keanehannya. tapi hanya itu satu-satunya lelaki yang ia cintai. Hanya dengan laki-laki itu dia jatuh cinta. Luh Tari hanya seorang wanita biasa, yang memiliki kecintaan yng diluar kebiasaan. Tapi tetap saja hal tersebut dianggap tabu. Makin malam, hatinya makin gundah. Kenapa kau tak keluar lagi untuk menyambangi ku? Aku ingin sekali bercerita denganmu.
            Tiba-tiba saja, ada yang duduk disebelahnya. Ia sangat kenal dengan aura ini. Dengan cepat ia menoleh ke kanan sumringah. Laki-laki itu kembali mucul disebelahnya. Dengan senyum khasnya. Mereka saling berpandangan sesaat. Laki-laki itu memecah keheningan.
            “Kenapa kau memanggilku?”
            “Aku hanya ingin ngobrol denganmu, tidak boleh?”
            “Kenapa kau tadi murung?”
            “Tidak, aku hanya ingin bersamamu.”
            “Bohong. Aku tahu semuanya.”
            “Ya, aku memang sedang bingung. Ah pokoknya aku hanya ingin bersamamu.”
            “Mengapa begitu?”
            “Entahlah, aku tidak ingin dinikahkan dengan yang lain.”
            “Kau serius? Kau tau aku ini siapa kan?”
            Laki-laki itu bertanya dengan sedikit serius. Senyumnya sedikit menghilang. Namun tak menghilangkan ketampanannya. Dengan mata menatap tajam ke arah Luh Tari. Luh Tari memalingkan wajahnya.
            “aku tahu kau. Kau hanya hayalanku saja.”
            “Salah, aku ini kau. Aku ini adalah dirimu. Aku selalu ada bersamamu.”
            “Kau tidak selalu ada bersamaku. Kau bohong. Kenapa selalu saja aku dibohongi oleh laki-laki?”
            Air Mata Luh Tari kini menetes. Membasahi pipinya, mengalir hingga dagu kemudian jatuh dengan pelan.
            “Aku tidak ingin menikah. Aku hanya ingin denganmu”
            “Kalau itu maumu, tapi kau harus siap.”
            “Aku siap, apapun itu. Yang penting hanya denganmu.”
            Kemudian mereka berpelukan. Seperti kekasih yang ingin berpisah, mereka berpelukan dengan erat. Seperti tak rela saling melepas, mereka akan selalu bersama dalam keabadian. Memang itu syaratnya agar mereka selalu bersama.
....
            Di pagi yang cerah, matahari masih belum tinggi. Suara ayam jantan masih terdengar. Namun pagi itu dipecahkan dengan suara bapa ketika membuka kamar Luh Tari. Luh Tari yang sedang tidur memeluk lukisan, mungkin tidurnya akan lama. Selama ia bersama laki-laki dalam lukisan dalam keabadian.  
            “Luuhhhh Tariiiiiii......................”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar